Tue09022014

Last update12:56:21 AM

Back You are here: Home Keluarga Remaja Remaja PERAN TOKOH AGAMA DALAM PEMBINAAN GENERASI MUDA (3)

PERAN TOKOH AGAMA DALAM PEMBINAAN GENERASI MUDA (3)

Peran Tokoh Agama Dalam Membinaan Generasi Muda

Jawaban dari permasalahan artikel sebelumnya adalah kembali pada sosok tokoh agama sebagai tauladan dan sumber konsentrasi remaja yang menjadi panutannya. Mampukah ia menjadikan dirinya termasuk masalah materi serta metodologi yang dipergunakan sebagai referensi utama bagi para masyarakat, khususnya remaja dalam mengembangkan sikap keberagamaan yang tidak sekedar merasa memiliki agama (having religion) melainkan sampai kepada pemahaman agama sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh kehidupan seseorang dan merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sehingga nantinya remaja-remaja tersebut merasakan ibadah sebagai perwujudan sikap keberagamaan intrinsik tersebut sama pentingnya atau malah lebih penting dibanding nonton teve, jalan-jalan, hura-hura dan lain sebagainya.

Tokoh agama dan organisasi massa keagamaan adalah salah satu komponen masyarakat penting yang dipandang dapat sangat berperan dalam mengarahkan cara pandang umatnya. Sebab tokoh agama dan organisasi keagamaan merupakan pihak yang mempunyai pengaruh yang luas dan dipercaya oleh masyarakat. Maka tokoh agama memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial. Oleh karena itu para pemuka agama dituntut menggali dan memantapkan kembali etika kehidupan yang religius dan bermartabat di tengah-tengah tantangan kehidupan global.

Dalam hal ini peran penting para tokoh-tokoh agama sangat dibutuhkan sebagai sarana media menguat keyakinan para penganut agama yang dianutnya. Peran tokoh agama setiap agama yang ada di Indonesia pada khususnya memiliki tanggung jawab besar dalam menguatkan ajarannya kepada umat.

Secara esensial paling tidak ada dua fungsi keagamaan yang cukup sentral dari tokoh agama, (1) fungsi pemeliharaan ajaran agama dan (2) fungsi pengembangan ajaran agama.  Makna dari fungsi pemeliharaan  adalah bahwa tokoh agama memiliki hak dan wewenang untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, disamping berfungsi sebagai penjaga kemurnian ajaran agamanya. Karena itu ia selalu mengajarkan ritual keagamaan secara benar dan berperilaku sesuai dengan ajarannya. Ia akan bereaksi dan mengoreksi bila terjadi penyimpangan-penyimpangan. Sedangkan fungsi pengembangan  ajaran adalah bahwa mereka berupaya melakukan misi  untuk menyiarkan ajaran agama dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pemeluknya.

Posisi strategis dari para tokoh agama itu,  selain sebagai pemimpin keagamaan juga karena seringkali mereka juga memiliki peran ganda yang lebih luas pada bidang-bidang lain seperti sosial-budaya, politik, ekonomi dan hankam. Dalam aspek sosial-budaya para tokoh agama dapat berperan sebagai agen pengembangan masyarakat, karena tokoh agama melalui dalil-dalil keagamaan dapat mendukung dan memperkokoh pengembangan masyarakat yang dikehendaki. Di bidang politik mereka juga dapat berperan sebagai pemimpin politik yang handal, karena mampu menggerakkan massanya secara fanatik untuk mendukung aspirasi tertentu. Di bidang ekonomi para tokoh agama dapat juga berperan sebagai motivator dan fasilitator terhadap umatnya untuk ikut serta mengembangkan perekonomian masyarakat, seperti pesan-pesan spiritual dan pesan moral agar mencari nafkah secara benar, secara halal sesuai dengan tuntunan agama.

Berdasarkan pengalaman, penyelesaian masalah sosial dan  remaja tidak dapat hanya mengandalkan semata-mata berdasarkan pendekatan keamanan atau kebijakan yang bersifat “top down”. Diperlukan upaya penyadaran dan pemberdayaan para tokoh agama lapisan bawah untuk lebih memahami masalah sosial di daerahnya dan untuk mencegahnya supaya negeri ini tidak hancur berantakan, mereka harus diberi kesempatan untuk memikirkan atau berbuat sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Harus diakui bahwa posisi tokoh agama dalam masyarakat bak “primadona” bagi umatnya. Para tokoh agama adalah sumber keteladanan, kedamaian dan ketenangan yang dapat memberi tuntunan dan insprasi kebaikan bagi umat beragama.  Berdasarkan hal-hal di atas, maka konsep optimalisasi peran tokoh agama perlu diarahkan untuk menyiapkan generasi yang handal, berprestasi dan berakhlak mulia, serta memiliki   kemampuan untuk mencegah dan menanggulangi ajakan dan rayuan untuk terjerumus dalam limbah narkoba, seks bebas dan kenakalan remaja. 

Mari kita simak pesan K.H. Wahid Hasyim, Menteri Agama Pertama, “Dan sabarlah hatimu untuk menyusun tenaga berideologi ketuhanan, dan janganlah perhatianmu berbelok lalu menitik-beratkan pekerjaan serta bersandar pada kedudukan-kedudukan dan formalitas yang mengikat”. Pesan ini dapat dipahami antara lain, bahwa birokrasi agama haruslah efisien, sementara civil society tetap bekerja keras.  Wallahu a’lam bis-shawwab.

Oleh: KH. M. Cholil Nafis, Ph D